Mengapa Masyarakat Lebih Suka Mencari Pekerjaan Daripada Membuka Usaha Sendiri?
Secara umum, mengapa masyarakat lebih menyukai mencari pekerjaan daripada membuat lapangan pekerjaan sendiri adalah pertanyaan yang tidak cukup dijawab hanya dengan satu alasan sederhana, melainkan hasil anyaman panjang dari faktor psikologis, ekonomi, budaya, sistem pendidikan, hingga kondisi lingkungan yang membentuk pola pikir berbulan bahkan bertahun‑tahun. Jika kita berdiri sejenak di depan pusat perbelanjaan atau kantor pelayanan ketenagakerjaan pada hari biasa, akan terlihat jelas antrean panjang orang‑orang yang membawa berkas lamaran, berharap satu dari sekian ratus pelamar mendapatkan satu kursi pekerjaan tetap.
Di sisi lain, jumlah orang yang berani memulai usaha baru dan mampu bertahan lebih dari tiga tahun jumlahnya jauh lebih sedikit, dan bukan karena mereka tidak memiliki ide atau kemauan, melainkan karena serangkaian pertimbangan berat yang sering kali luput dari pembahasan permukaan saja. Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu daerah atau negara saja, namun menjadi pola yang hampir sama di sebagian besar belahan dunia, dengan kekhasan tersendiri di setiap lingkungan masyarakatnya.
Daftar Isi
Di sisi lain, jumlah orang yang berani memulai usaha baru dan mampu bertahan lebih dari tiga tahun jumlahnya jauh lebih sedikit, dan bukan karena mereka tidak memiliki ide atau kemauan, melainkan karena serangkaian pertimbangan berat yang sering kali luput dari pembahasan permukaan saja. Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu daerah atau negara saja, namun menjadi pola yang hampir sama di sebagian besar belahan dunia, dengan kekhasan tersendiri di setiap lingkungan masyarakatnya.
![]() |
| Lebih memilih bekerja daripada membangun usaha mandiri |
Tulisan ini akan membongkar lapisan demi lapisan alasan di balik pilihan mayoritas tersebut, bukan untuk menilai mana yang lebih baik atau lebih buruk, melainkan untuk memahami akar masalahnya secara jujur, mendalam, dan apa adanya.
Faktor Psikologis dan Keinginan Akan Kepastian Hidup
Salah satu alasan paling mendasar yang jarang dibahas secara terbuka adalah cara kerja alam pikiran manusia yang secara bawaan lebih menyukai hal‑hal yang sudah terbayang jelas jalannya, daripada sesuatu yang penuh kabut ketidakpastian. Bagi sebagian besar orang, hidup itu sendiri sudah cukup penuh dengan hal‑hal yang sulit ditebak, mulai dari kesehatan, kondisi alam, hingga hubungan antarmanusia, sehingga di soal mata pencaharian, naluri alami yang muncul adalah mencari sesuatu yang bisa dipegang kepastiannya.
Rasa Takut Gagal yang Sudah Mendarah Daging
Rasa takut bukanlah kelemahan, melainkan mekanisme pertahanan diri yang dibawa manusia sejak lahir. Dalam konteks pekerjaan, menjadi karyawan atau pegawai memiliki batas kerugian yang sangat jelas: paling buruk seseorang diberhentikan dari pekerjaannya, dan ia masih bisa mencari tempat lain tanpa harus menanggung kerugian materi yang berlipat ganda. Sebaliknya, membuka lapangan kerja sendiri berarti menaruh tidak hanya tenaga dan pikiran, tapi juga tabungan bertahun‑tahun, aset keluarga, bahkan nama baik di hadapan orang lain. Banyak yang masih teringat jelas cerita tetangga, kerabat dekat, atau orang tua mereka yang pernah mencoba berusaha, lalu jatuh bangkrut dan butuh waktu belasan tahun untuk menata ulang ekonomi rumah tangganya. Cerita‑cerita seperti itu tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat, dan berubah menjadi semacam peringatan tak tertulis bahwa jalur berusaha itu berbahaya, sementara jalur mencari pekerjaan jauh lebih aman untuk diinjak.
Kenyamanan Zona Aman yang Sulit Ditinggalkan
Bekerja pada orang lain atau lembaga memiliki batasan tugas dan waktu yang jelas. Ada jam masuk, jam pulang, aturan main yang sudah ditetapkan, dan begitu langkah kaki keluar dari tempat kerja, sebagian besar beban tanggung jawab bisa ditinggalkan sejenak. Berbeda dengan orang yang membuka lapangan kerja sendiri, ia adalah orang pertama yang datang dan paling terakhir pulang, pikiran tentang usahanya tidak pernah berhenti meski sedang berbaring tidur, dan tidak ada hari libur yang benar‑benar bebas dari tanggung jawab. Setelah seseorang merasakan keteraturan seperti itu selama bertahun‑tahun, semakin berat rasanya untuk melepaskannya dan masuk ke dunia yang sama sekali tidak memiliki patokan pasti. Kenyamanan ini bukan berarti kemalasan, melainkan wujud keinginan dasar setiap manusia untuk memiliki ketenangan batin dalam menjalani hari.
Alasan Ekonomi: Perbedaan Jelas Antara Risiko dan Pendapatan
Jika dilihat dari sisi hitung‑menghitung materi, perbandingan antara mencari pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja ibarat membandingkan berjalan di jalan raya yang sudah beraspal rata dengan berjalan melewati hutan belantara yang belum ada jalannya. Keduanya sama‑sama membutuhkan tenaga, tapi tingkat kesulitan dan apa yang akan didapat di ujung jalan sangatlah berbeda.
Tidak Ada Jaminan Penghasilan Tetap Bagi Pelaku Usaha
Bagi pencari kerja, hal yang paling ditunggu setiap bulannya adalah tanggal penerimaan upah atau gaji. Berapa jumlahnya, kapan cairnya, semuanya sudah tertulis jelas dalam perjanjian kerja, dan dalam kondisi normal hal itu pasti diterima tanpa harus memikirkan apakah bulan ini perusahaan untung atau rugi. Sementara itu, orang yang membuka usaha sama sekali tidak memiliki kepastian seperti itu. Ada bulan keuntungannya berlipat ganda dari gaji seorang pegawai tinggi, tapi tidak jarang ada bulan berturut‑turut justru merugi, dan ia tetap wajib membayar sewa tempat, gaji karyawan, listrik, dan berbagai biaya lain dari kantong pribadinya. Bagi masyarakat yang kondisi ekonominya menengah ke bawah atau baru saja mulai mandiri, ketidakpastian pendapatan seperti ini terasa sangat berisiko, karena satu saja bulan tanpa pemasukan yang cukup, bisa berarti kebutuhan makan sehari‑hari atau biaya pendidikan anak menjadi terancam.
Beban Kerja dan Tanggung Jawab yang Jauh Lebih Berat
Banyak orang beranggapan bahwa mereka yang berusaha sendiri bekerja lebih santai dan bisa mengatur waktu seenaknya. Anggapan ini sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Rata‑rata waktu kerja seseorang yang membuka lapangan kerja baru berkisar antara 10 hingga 14 jam sehari, 6 sampai 7 hari seminggu, tanpa tunjangan hari raya, tanpa uang cuti, dan tanpa jaminan hari tua yang otomatis terpotong dari pendapatan setiap bulan. Sementara itu, beban pikiran yang ditanggung juga berkali‑kali lipat lebih besar: mulai dari persaingan usaha, perubahan selera pasar, keluhan pembeli, hingga masalah internal dengan orang‑orang yang bekerja dibantu. Jika dihitung secara adil berdasarkan jam kerja dan beban pikiran, pendapatan yang diterima pelaku usaha di tahun‑tahun awal sering kali nilainya jauh lebih kecil dibandingkan jika ia memilih menjadi pekerja tetap saja.
Keterbatasan Modal dan Akses Sumber Daya
Sering kali terdengar ucapan bahwa siapa saja sebenarnya bisa berwirausaha asalkan mau berusaha keras. Ucapan itu ada benarnya, tapi hanya sebagian kecil saja, karena pada kenyataannya kemauan saja tidak cukup berarti tanpa ditunjang sumber daya yang memadai. Di sinilah letak salah satu kesenjangan terbesar yang membuat mayoritas masyarakat lebih memilih melamar pekerjaan daripada membuka lapangan kerja baru.
Modal Bukan Hanya Uang, Tapi Juga Relasi dan Waktu
Kebanyakan orang hanya mengartikan modal sebagai sejumlah uang yang disiapkan di awal. Padahal sesungguhnya modal itu jauh lebih luas dari itu. Ada modal pengetahuan tentang cara menjalankan usaha, modal pergaulan dan kenalan yang bisa membuka akses pemasok maupun pembeli, modal pengalaman agar tidak mudah ditipu atau salah mengambil langkah, dan yang paling mahal dari semuanya adalah modal waktu. Seseorang yang memulai usaha dari nol butuh waktu bertahun‑tahun hanya untuk membangun kepercayaan dan nama baik di mata masyarakat, sementara di waktu yang sama ia tetap harus membiayai kebutuhan hidupnya dan orang‑orang yang menjadi tanggungannya. Bagi mereka yang tidak memiliki cukup simpanan atau keluarga yang bisa menopang sementara waktu membangun usaha, pilihan ini hampir mustahil untuk diambil, karena tidak ada yang bisa menahan lapar hanya dengan bermodalkan semangat saja.
Akses Pembiayaan Masih Sulit Dijangkau Sebagian Besar Masyarakat
Berbagai lembaga keuangan memang kerap menawarkan pinjaman modal usaha dengan berbagai janji kemudahan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, syarat‑syarat yang diminta sering kali justru hanya bisa dipenuhi oleh orang‑orang yang secara ekonomi sudah mapan saja: jaminan tanah atau bangunan bernilai tinggi, riwayat keuangan yang bersih dan tercatat rapi selama bertahun‑tahun, hingga laporan keuangan yang rapi layaknya perusahaan besar. Sementara itu, sebagian besar masyarakat biasa sama sekali tidak memiliki dokumen‑dokumen semacam itu. Akibatnya, mereka yang paling membutuhkan bantuan permodalan justru yang paling sulit menjangkaunya, dan satu‑satunya jalan yang tersisa hanyalah meminjam kepada perorangan dengan bunga yang sangat memberatkan, atau memilih mundur dan kembali mengikuti jalur aman menjadi pencari kerja.
Pola Pendidikan yang Lebih Mencetak Pencari Kerja
Sistem pendidikan yang berjalan puluhan tahun di tengah masyarakat kita sesungguhnya memiliki andil paling besar dalam membentuk pola pikir generasi demi generasi, bahwa tujuan utama dari bersekolah setinggi‑tinggi adalah agar kelak mendapatkan pekerjaan yang layak, bergaji besar, dan dihormati banyak orang.
Kurikulum yang Jarang Menanamkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini
Dari bangku taman kanak‑kanak hingga perguruan tinggi, hampir seluruh materi yang diajarkan berpusat pada bagaimana menjadi tenaga kerja yang ahli, terampil, dan siap pakai oleh pihak lain. Anak‑anak dilatih untuk menjawab soal dengan jawaban yang sudah ditentukan benar atau salahnya, mengikuti aturan yang sudah baku, dan berprestasi berdasarkan standar penilaian yang seragam bagi semua orang. Sangat sedikit sekali ruang yang diberikan untuk melatih keberanian mengambil risiko, berimajinasi menciptakan sesuatu yang baru, bangkit kembali setelah melakukan kesalahan, atau melihat peluang di tengah kesulitan. Akibatnya, saat tiba waktunya terjun ke masyarakat, pola pikir yang terbentuk secara otomatis adalah: “kemampuan apa yang sudah saya miliki untuk ditawarkan kepada orang lain yang punya usaha”, bukan “apa yang bisa saya buat atau saya ubah agar bisa membuka kesempatan kerja bagi saya dan orang lain”.
Gelar Pendidikan Sering Dianggap Hanya Untuk Melamar Kerja
Sudah menjadi pemandangan umum, begitu seseorang selesai menempuh pendidikan hingga jenjang tertentu, hal pertama yang ditanyakan oleh keluarga, tetangga, maupun kerabat jauh adalah “sudah dapat kerja belum?”. Sangat jarang yang bertanya “sudah berencana membuka usaha apa?”. Pandangan ini membuat gelar akademik seolah‑olah hanya berfungsi sebagai tiket masuk untuk melamar pekerjaan di instansi atau perusahaan milik orang lain. Banyak lulusan perguruan tinggi yang sebenarnya memiliki ide cemerlang untuk menciptakan sesuatu yang baru, namun akhirnya mengubur ide itu begitu saja karena merasa sayang jika ilmu dan gelar yang diperoleh dengan susah payah bertahun‑tahun “hanya” dipakai untuk berusaha sendiri, sementara orang lain menganggap itu belum dikatakan sukses sesungguhnya.
Pengaruh Budaya dan Lingkungan Sosial Sekitar
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan apa yang dianggap baik, benar, atau pantas sangat ditentukan oleh apa yang berlaku di lingkungan tempat ia dibesarkan dan tinggal. Pandangan masyarakat tentang pekerjaan ibarat arus sungai yang deras; berjalan berlawanan arah membutuhkan tenaga yang luar biasa besar, sementara berjalan searah arus rasanya jauh lebih ringan dan mudah dilakukan.
Pandangan Masyarakat Tentang Status Pekerjaan yang Mapan
Secara turun‑temurun ada hierarki tersendiri di mata masyarakat soal derajat sebuah pekerjaan. Pekerjaan tetap, apalagi di instansi pemerintah atau perusahaan besar yang namanya sudah dikenal luas, selalu menempati urutan paling atas dalam hal kehormatan dan pengakuan sosial. Sementara itu, orang yang berusaha sendiri, apalagi yang masih kecil atau baru mulai, sering kali dipandang sebelah mata, dianggap belum punya pekerjaan tetap, atau dianggap terpaksa berbuat demikian karena tidak mampu bersaing mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pandangan ini meski tidak diucapkan secara terang‑terangan, tapi terasa jelas dalam cara orang berbicara, cara memperkenalkan orang lain, hingga dalam pembicaraan saat mencari pasangan hidup. Tidak semua orang sanggup dan berani menanggung pandangan miring seperti itu dalam jangka waktu lama, dan akhirnya memilih jalan yang paling mudah mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Tekanan Keluarga dan Ekspektasi Lingkungan yang Mengarahkan Pilihan
Bagi sebagian besar orang tua, melihat anaknya bekerja dengan gaji pasti setiap bulannya adalah wujud ketenangan hati yang paling utama. Bukan karena mereka tidak ingin anaknya maju atau menjadi pemimpin yang membuka lapangan kerja bagi orang banyak, melainkan karena mereka sudah merasakan sendiri betapa pahit dan sulitnya kehidupan, dan mereka hanya ingin anaknya melewati jalan yang lebih aman, lebih mulus, dan tidak perlu jatuh bangkit sesering yang pernah mereka alami. Niat baik yang berangkat dari rasa sayang ini lambat laun berubah menjadi tekanan halus namun kuat, yang mengarahkan pilihan anak‑anak mereka untuk mendaftar kerja ke sana‑sini, dan melupakan sejenak keinginan hatinya untuk membangun sesuatu milik sendiri. Ditambah lagi obrolan tetangga yang setiap saat membanding‑bandingkan pencapaian satu sama lain, membuat pilihan untuk berusaha sendiri terasa semakin berat untuk diambil.
Hambatan Regulasi dan Birokrasi yang Masih Terasa Berat
Banyak orang yang sebenarnya sudah memiliki kemauan, sedikit modal, dan keberanian untuk mulai membuka lapangan kerja baru, namun akhirnya berhenti di tengah jalan atau berubah pikiran total begitu berhadapan dengan aturan dan administrasi yang berlaku. Ini adalah alasan yang sangat nyata dan sering kali menjadi titik balik yang membuat orang berkesimpulan bahwa mencari pekerjaan saja jauh lebih sederhana urusannya.
Proses Perizinan yang Sering Kali Membingungkan dan Memakan Waktu
Meskipun sudah ada berbagai upaya penyederhanaan aturan di berbagai tempat, kenyataan di lapangan masih bercerita lain. Untuk mengurus satu izin usaha saja, seseorang harus bolak‑balik ke berbagai instansi, mengisi berlembar‑lembar formulir, menyerahkan berkas yang kadang persyaratannya saling bertentangan antar satu bagian dengan bagian lain, dan menunggu berbulan‑bulan dengan kepastian yang tidak jelas. Bagi orang yang terbiasa dengan hal‑hal administratif mungkin ini hanya soal kesabaran, tapi bagi masyarakat kebanyakan yang pendidikan dan pengalamannya terbatas, seluruh proses itu terasa seperti tembok tinggi yang mustahil untuk didaki sendirian. Sementara itu, untuk menjadi pekerja tetap, urusan administrasi yang diurus jauh lebih sedikit, lebih singkat, dan sebagian besar justru dibantu langsung oleh pihak pemberi kerja.
Berbagai Biaya Tersembunyi Yang Menjadi Beban Tambahan
Belum selesai sampai di urusan izin saja, setelah usaha berjalan pun masih ada serangkaian kewajiban dan biaya yang jumlahnya terus bertambah, dan banyak di antaranya tidak terduga di awal perhitungan. Mulai dari berbagai pungutan, iuran, retribusi, hingga sanksi administrasi yang besarnya kadang tidak sebanding dengan omzet yang dihasilkan pelaku usaha skala kecil. Semua ini menambah beban risiko yang harus ditanggung, sementara jika ia memilih menjadi karyawan, seluruh urusan perizinan, kewajiban negara, dan biaya‑biaya operasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik usaha, dan ia hanya perlu fokus mengerjakan apa yang menjadi tugas utamanya saja.
Keterbatasan Pengetahuan dan Keterampilan Berwirausaha
Keberanian saja tidak akan pernah cukup untuk bisa bertahan dan berkembang menciptakan lapangan pekerjaan. Diperlukan seperangkat keahlian khusus yang sama sekali berbeda dengan keahlian yang dibutuhkan saat menjadi pekerja, dan keahlian ini tidak didapatkan secara otomatis begitu saja.
Banyak Yang Ingin Berusaha, Tapi Tidak Tahu Harus Mulai Dari Mana
Jika ditanya satu per satu, sebenarnya cukup banyak orang yang memiliki keinginan kuat untuk memiliki usaha sendiri dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Namun begitu ditanya lebih lanjut kira‑kira akan bergerak di bidang apa, bagaimana cara memulainya, kemana harus mencari bahan baku, bagaimana cara memasarkan, bagaimana mencatat keuangan dengan benar, dan bagaimana cara menghadapi persaingan, sebagian besar akan menggeleng dan mengaku tidak tahu sama sekali. Informasi yang beredar di luar sana terlalu banyak, terlalu beragam, dan banyak pula yang justru menyesatkan atau hanya berisi kisah sukses palsu saja, sehingga orang awam semakin bingung membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar omong kosong belaka. Berbeda saat melamar pekerjaan, alurnya sangat jelas: cari lowongan, siapkan berkas, ikuti tes, wawancara, lalu diterima atau ditolak.
Kemampuan Beradaptasi yang Belum Siap Menghadapi Pasar
Dunia usaha berubah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Apa yang laku dan disukai orang hari ini, bisa jadi sama sekali tidak ada yang meminati enam bulan ke depan. Peraturan berubah, harga bahan baku melonjak tiba‑tiba, pesaing baru datang dengan cara yang lebih canggih, semuanya terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Orang yang membuka usaha dituntut harus bisa berubah arah secepat kilat, belajar hal baru setiap saat, dan selalu waspada. Sementara itu, di lingkungan pekerjaan tetap, perubahan biasanya berjalan jauh lebih lambat, ada aturan baku yang diikuti bersama, dan sistem yang sudah berjalan bertahun‑tahun sehingga seseorang bisa bertahan cukup lama hanya dengan menguasai satu jenis keahlian khusus saja.
Arah Baru: Menyeimbangkan Pilihan Bekerja dan Berwirausaha
Dari seluruh uraian panjang di atas, menjadi sangat jelas bahwa alasan mengapa masyarakat jauh lebih banyak memilih mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan sendiri sama sekali bukan karena mereka malas, tidak punya otak, atau tidak memiliki cita‑cita tinggi. Pilihan itu lahir dari rangkaian pertimbangan yang sangat manusiawi: keinginan akan kepastian, keterbatasan sumber daya yang dimiliki, pola pikir yang dibentuk sistem pendidikan dan budaya selama puluhan tahun, beratnya hambatan birokrasi, hingga ketidaksiapan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Tidak ada satu pun alasan itu yang bisa dipandang salah atau lemah, karena semuanya berakar dari upaya setiap manusia untuk bertahan hidup dan mencari ketenangan dengan cara yang paling masuk akal menurut versi dirinya masing‑masing.
Penting juga dipahami bahwa bekerja pada orang lain dan membuka usaha sendiri sesungguhnya bukanlah dua hal yang saling bermusuhan atau harus dipertentangkan mana yang lebih mulia. Keduanya sama‑sama memiliki peran yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dalam berjalannya roda perekonomian masyarakat. Yang perlu diperbaiki bukanlah memaksa semua orang harus berwirausaha, melainkan memperkecil kesenjangan yang ada saat ini: mempermudah akses permodalan, menyederhanakan aturan, mengubah cara pandang pendidikan, dan mengubah budaya masyarakat agar mereka yang berani membuka lapangan kerja mendapatkan penghargaan dan kemudahan yang setara, bahkan lebih besar, dibandingkan mereka yang bekerja sebagai pegawai. Sampai saat itu tiba, pola yang ada hari ini akan tetap berjalan terus, dan itu adalah hal yang sangat wajar terjadi.
Bagi Anda yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan, atau sudah lama berada di salah satu jalur tersebut, apa menurut Anda alasan paling kuat yang membuat orang lebih memilih mencari pekerjaan daripada membuka usaha sendiri? Atau mungkin Anda memiliki pengalaman pribadi yang belum terungkap di tulisan ini? Silakan sampaikan pandangan, cerita, maupun pertanyaan Anda, agar pembahasan ini menjadi semakin lengkap dan bermanfaat bagi kita semua yang sedang berusaha memahami dinamika kehidupan ini lebih dalam lagi.

Posting Komentar untuk "Mengapa Masyarakat Lebih Suka Mencari Pekerjaan Daripada Membuka Usaha Sendiri?"