⬜◻️◽▫️Kebodohan Skotlandia: Saat Edinburgh Coba Meniru Parthenon tapi Malah Jadi Aib yang Tak Pernah Selesai
⚪Tahun 1826, bayangin deh, orang-orang Skotlandia lagi bangga banget sama diri mereka sendiri. Waktu itu mereka lagi di puncak kejayaan, industri maju, kota-kota berkembang pesat, dan mereka merasa kalau budaya serta kecerdasan mereka setara banget sama bangsa-bangsa besar eropa yang lain. Nah, pas lagi senang-senangnya itu, ada satu ide gila yang muncul di kepala para pemimpin dan orang kaya di Edinburgh. Ide itu sederhana aja sebenernya: kita mau bikin bangunan yang bisa ngalahin Parthenon di Yunani!
⚪Bukan cuma sama bagusnya, tapi harus lebih besar, lebih megah, tapi yang paling penting… lebih murah biayanya. Eh tapi ya namanya juga rencana manusia, seringkali apa yang dibayangkan gak sesuai sama kenyataan, kan? Dan proyek yang dimulai dengan ambisi setinggi langit itu akhirnya berubah jadi satu hal yang paling memalukan sepanjang sejarah arsitektur Skotlandia, sampai sekarang orang nyebutnya sebagai “Kebodohan Skotlandia” atau kadang juga dipanggil “Aib Edinburgh”.
 |
| Kebodohan Skotlandia: Saat Edinburgh Coba Meniru Parthenon tapi Malah Jadi Aib yang Tak Pernah Selesai |
⚪Emangnya kenapa sih mereka tiba-tiba kepengen banget niru Parthenon? Coba kita mundur sedikit ke belakang, biar ceritanya jadi lebih jelas dan gak melompat-lompat gitu aja. Di awal abad ke-19, ada gerakan budaya yang namanya Neoklasik, yang lagi ngetren banget di seluruh eropa. Gerakan ini intinya tuh orang-orang terinspirasi sama seni, arsitektur, dan nilai-nilai zaman Yunani kuno sama Romawi kuno. Mereka percaya kalau segala sesuatu yang datang dari dua peradaban besar itu itu adalah standar keindahan, keteraturan, dan keagungan yang paling tinggi.
⚪Nah, Skotlandia pas itu lagi pengen banget nunjukin ke dunia luar kalau mereka itu bangsa yang beradab, berilmu, dan punya kedudukan yang sama pentingnya sama negara-negara besar lain. Edinburgh sendiri udah punya julukan “Athena Utara”, lho, karena banyak banget bangunan bergaya klasik yang udah dibangun di sana. Jadi, wajar aja kalau mereka pengen bikin satu monumen yang bisa jadi simbol paling utama dari semua kebanggaan itu.
⚪Terus, ada satu hal lagi yang bikin rencana ini makin didorong terus, yaitu perang yang baru aja selesai. Waktu itu Inggris sama sekutunya baru aja ngalahin Napoleon Bonaparte, dan di banyak kota besar di eropa, orang-orang lagi sibuk bikin monumen buat ngingat-ngingat kemenangan itu. Di London misalnya, mereka lagi bangun Tugu Nelson. Nah, orang-orang Edinburgh merasa gak mau kalah dong.
⚪Mereka pikir, kalau kota lain punya monumen kebanggaan, kita juga harus punya, malah harus lebih bagus dan lebih besar lagi. Terus lahirlah ide untuk membangun apa yang awalnya dinamakan sebagai Monumen Nasional Skotlandia. Tujuannya jelas banget: selain buat ngingat para pahlawan yang gugur di perang melawan Napoleon, monumen ini juga harus jadi tempat ibadah umum, sekaligus bukti nyata kalau Skotlandia itu emang setara sama Yunani kuno yang punya Parthenon legendaris itu.
⚪Nah, pas udah bulat tekadnya, mereka mulai cari orang yang bisa merancang bangunan ini. Dua orang arsitek terkenal waktu itu, yaitu Charles Robert Cockerell sama William Henry Playfair, ditunjuk buat tanggung jawab ini. Mereka berdua sepakat banget kalau desainnya harus meniru persis Parthenon yang ada di Bukit Akropolis, Athena.
⚪Tapi ada satu syarat yang dikasih sama panitia penyelenggara, dan ini yang bakal jadi awal dari semua masalah nantinya: bangunan itu harus lebih besar ukurannya dari aslinya, tapi biaya pembangunannya harus jauh lebih murah dari perkiraan normal. Wah, ini sih udah kayak minta kue enak tapi gak mau keluar duit banyak, ya kan?
⚪Coba deh bayangin, Parthenon asli itu udah terkenal banget karena ukurannya yang gede dan detailnya yang rumit banget. Nah, si arsitek disuruh bikin versi yang lebih gede lagi, tapi dengan biaya yang dipotong sana-sini. Awalnya sih mereka ngitung kalau butuh dana sekitar 42 ribu poundsterling, itu nilai uang tahun 1826 lho, yang kalau dikonversi ke sekarang nilainya pasti ratusan kali lipat lebih mahal.
⚪Tapi cara mereka ngumpulin uangnya bukan dari pemerintah secara langsung, melainkan lewat sumbangan dari masyarakat dan orang-orang kaya. Awal-awal emang banyak yang antusias, banyak yang kasih uang karena merasa ini proyek kebanggaan bangsa. Tapi lama-lama, antusiasme itu mulai menurun, dan uang yang masuk gak secepat yang mereka bayangkan.
⚪Terus di tahun 1826 itu juga, ada masalah ekonomi besar yang melanda Inggris dan Skotlandia. Ada krisis keuangan yang bikin banyak orang jadi miskin, banyak usaha bangkrut, dan otomatis sumbangan buat proyek monumen ini jadi makin seret banget.
⚪Padahal waktu itu pondasi bangunan udah mulai dikerjakan, dan beberapa tiang utama udah mulai didirikan di atas Bukit Calton, tempat yang dipilih karena letaknya yang tinggi dan bisa dilihat dari hampir seluruh penjuru kota Edinburgh. Tapi karena uangnya makin menipis, mereka terpaksa cari cara buat ngirit biaya sebisa mungkin, yang akhirnya bikin kualitas bangunannya jadi gak sebagus rencana awal.
⚪Misalnya nih, di Parthenon asli, semua batu yang dipake itu dipotong dengan sangat presisi, pas banget satu sama lain tanpa butuh perekat apa-apa. Tapi di sini, karena pengen hemat, mereka pake batu yang kualitasnya gak terlalu bagus, dan cara memotongnya juga gak sehalus itu. Terus rencananya itu monumen bakal punya 46 tiang besar, kan? Tapi karena uangnya abis duluan, mereka cuma sempat bikin 12 tiang aja. Itu pun cuma dibangun sampai setinggi tiang, atapnya gak ada, dindingnya gak ada, hiasan-hiasan patung yang rencananya bakal dipasang di atasnya juga gak pernah terwujud sama sekali.
⚪Dan yang paling lucu sekaligus menyedihkan, waktu mereka sadar kalau uang udah abis dan proyek harus dihentikan sementara, kondisi bangunannya udah kelihatan aneh banget. Bayangin deh, ada 12 tiang batu besar yang berdiri sendiri-sendiri di atas bukit, tanpa ada atap, tanpa ada dinding penghubung, cuma ada pondasi yang terbengkalai di bawahnya.
⚪Kelihatannya kayak bangunan yang tiba-tiba diputus tengah jalan, kayak kerangka bangunan yang gak selesai dibikin. Waktu itu orang-orang Edinburgh yang tadinya bangga banget, sekarang malah jadi malu kalau ngeliat itu. Mereka pikir, “Kita kan mau bikin monumen kebanggaan, kok malah jadi kayak puing-puing reruntuhan yang gak ada gunanya?”
⚪Gak butuh waktu lama deh, nama julukan mulai bermunculan. Awalnya orang-orang cuma ngomongin pelan-pelan, tapi lama-lama jadi umum banget dipake. “Kebodohan Skotlandia” jadi nama yang paling pas buat nggambarin proyek ini. Ada juga yang nyebutnya “Aib Edinburgh”, karena bangunan itu berdiri di tempat yang paling tinggi dan paling kelihatan, jadi setiap kali ada tamu atau orang asing yang datang ke kota itu, mereka pasti nanya, “Eh, itu bangunan apa sih? Kok cuma tiang-tiang doang?” Dan orang lokal pasti bakal malu buat jelasin kalau itu dulu rencananya mau jadi Parthenon baru.
⚪Tapi sebenernya, masalahnya gak cuma soal uang abis aja lho. Ada juga masalah perencanaan yang buruk banget. Waktu itu mereka terlalu terburu-buru pengen niru keagungan Parthenon tapi gak mikirin matang-matang soal kebutuhan aslinya. Parthenon itu dibangun oleh bangsa Yunani kuno yang punya sumber daya banyak, waktu yang panjang, dan tujuan yang jelas.
⚪Nah, orang Skotlandia ini pengen dapet hasil yang sama bagusnya tapi dengan cara yang setengah-setengah, pengen cepat, pengen murah, tapi pengen megah. Ya namanya juga hal yang mustahil, kan? Gak ada lho barang bagus yang murah meriah dan cepat selesai, itu prinsip yang berlaku di mana aja dan kapan aja.
⚪Terus ada juga pendapat dari para ahli sejarah arsitektur, yang bilang kalau kesalahan terbesar mereka itu adalah berusaha meniru bangunan kuno secara harfiah banget, tapi gak menyesuaikan sama kebutuhan zamannya. Parthenon itu kan fungsinya sebagai kuil dewa, tempat pemujaan.
⚪Nah, monumen ini mau dipake buat apa? Awalnya sih dibilang buat ngingat pahlawan, tapi desainnya terlalu besar dan terlalu kaku, jadi sebenernya gak ada fungsi praktis yang jelas buat masyarakat sekitar. Jadi selain gak selesai dibangun, bangunan itu juga sebenernya gak terlalu berguna kalau pun selesai dibangun. Itu nambah lagi rasa malu dan rasa kecewa orang-orang di sana.
⚪Bertahun-tahun lamanya, bangunan itu cuma dianggurin gitu aja. Berdiri diam di atas Bukit Calton, kena panas, kena hujan, kena angin, dan makin lama makin kelihatan suram dan sedih. Ada beberapa kali usaha buat nyelesain proyek itu, lho. Misalnya di tahun 1830-an, ada usulan buat diubah jadi gedung sekolah, atau gedung pengadilan, tapi rencana itu gak pernah jalan karena biaya penyelesaiannya ternyata masih terlalu mahal.
⚪Terus di abad ke-20, ada lagi yang ngusulin buat dibongkar aja sekalian karena dianggap merusak pemandangan, tapi banyak juga yang menolak karena udah jadi bagian sejarah, meskipun sejarah yang memalukan.
⚪Tapi percaya gak sih, seiring berjalannya waktu, pandangan orang-orang berubah juga pelan-pelan. Apa yang dulunya dianggap aib dan kebodohan, sekarang malah jadi salah satu tempat wisata paling terkenal di Edinburgh.
⚪Orang-orang sekarang gak lagi ngeliat bangunan itu sebagai kegagalan, tapi sebagai bukti sejarah yang unik banget. Mereka malah bilang, “Nah, ini nih bukti kalau nenek moyang kita itu punya ambisi besar banget, meskipun gagal mewujudkannya, tapi usahanya itu yang bikin cerita ini menarik.”
⚪Sekarang, kalau kamu pergi ke sana, naik ke atas Bukit Calton, kamu bakal ngeliat 12 tiang besar itu berdiri tegak banget, kokoh meskipun udah berumur hampir 200 tahun. Dan yang paling seru, dari tempat itu kamu bisa ngeliat pemandangan seluruh kota Edinburgh yang luar biasa indahnya. Dari sana kelihatan kastil, kelihatan gedung-gedung tua, sampai ke laut di kejauhan. Jadi sekarang, monumen yang dulu disebut “Aib Edinburgh” itu malah jadi tempat favorit orang buat duduk santai, foto-foto, atau sekadar nikmatin pemandangan kota.
⚪Ada pelajaran penting banget yang bisa kita ambil dari cerita ini, lho.
🌐Pertama, jangan pernah berharap dapet hasil yang luar biasa kalau kita gak mau ngeluarin usaha dan biaya yang sepadan. Orang Skotlandia pengen bangunan sehebat Parthenon, tapi pengen bikinnya murah dan cepat, ya jelas aja gagal.
🌐Kedua, kadang apa yang kita anggap kegagalan atau aib di masa lalu, bisa berubah jadi sesuatu yang berharga dan unik di masa depan, asal kita mau ngeliatnya dari sudut pandang yang beda.
🌐Ketiga, ambisi itu emang perlu, tapi harus dibarengi sama perencanaan yang matang dan perhitungan yang realistis, jangan cuma ngandelin semangat doang.
⚪Jadi deh, itu dia cerita lengkap soal Kebodohan Skotlandia. Sebuah proyek yang dimulai dengan mimpi besar buat ngalahin keagungan Parthenon Yunani, tapi berakhir jadi bangunan yang gak selesai dibangun dan jadi bahan ejekan selama berpuluh-puluh tahun. Tapi anehnya, justru karena gak selesai itulah, bangunan itu jadi punya cerita sendiri yang gak dimiliki monumen-monumen lain yang udah selesai sempurna.
⚪Kalau dulu mereka sukses bikin monumen itu persis sama kayak Parthenon, mungkin sekarang orang gak bakal terlalu ingat sama sekali, atau cuma dianggap tiruan biasa aja. Tapi karena gagal dan jadi unik begini, namanya abadi dalam sejarah dan selalu diceritain dari generasi ke generasi.
⚪Emang kadang hidup itu lucu ya, rencana A gak jalan, malah dapet hasil yang gak terduga, dan ternyata hasil yang gak terduga itu malah jadi lebih berkesan. Begitu juga sama “Kebodohan Skotlandia” ini, dari aib nasional jadi ikon sejarah yang dibanggakan sekarang.
⚪Dan sampai sekarang pun, kalau ada orang yang nanya soal bangunan tiang-tiang tanpa atap itu, orang Edinburgh bakal jawab dengan bangga, “Itu nih monumen kita, bukti kalau kita pernah bermimpi besar banget, meskipun gak kesampaian, tapi ceritanya gak bakal hilang.”
Posting Komentar untuk "Kebodohan Skotlandia: Saat Edinburgh Coba Meniru Parthenon tapi Malah Jadi Aib yang Tak Pernah Selesai"